Sistem Pencatatan Akuntansi Keuangan Daerah Yang Harus Anda Pahami

Apa itu Akuntansi Daerah ? Akuntansi Daerah adalah poses akuntansi termasuk didalamnya adalah proses identifikasi, pengukuran, pencatatan serta pelaporan setiap transaksi keuangan yang terjadi dalam suatu entitas/instansi pemerintah daerah (PEMDA) seperti kabupaten, kota ataupun provinsi yang dijadikan acuan untuk pengambilan kebijakan ekonomi, baik eksternal maupun internal.

Siapa saja pihak yang membutuhkan informasi ini ?

Informasi akuntansi yang ada diolah menjadi informasi-informasi tertentu yang diperlukan berbagai pihak. Baik internal maupun eksternal seperti  Badan Pengawas Keuangan (BPK), investor, donatur, analisis ekonomi, pemerhati pemda, rakyat, pemerintah pusat ataupun seluruh stakeholders membutuhkan data informasi tersebut.

Baca juga: Pembukuan Bisnis Anda Bermasalah? SISCOM Accounting Solusinya

Pada umumnya, sistem yang dilakukan dalam pencatatan akuntansi keuangan daerah tidak jauh berbeda dengan pencatatan akuntansi lainnya. Anda hanya perlu mengidentifikasi transaksi ekonomi, apakah transaksi tersebut bersifat ekonomi atau tidak. Transaksi ekonomi ialah aktivitas yang ada hubungan dengan uang.

Jadi seluruh transaksi harus diciptakan dengan uang yang berlaku (rupiah). Selanjutnya adalah pencatatan transaksi serta pengolahan data menjadi sebuah informasi yang diperlukan. Informasi tersebut kemudian disusun menjadi sebuah laporan keuangan pemerintah daerah yang berisi:

  1. Laporan realisasi anggaran
  2. Laporan neraca
  3. Laporan arus kas
  4. Catatan atas laporan keuangan

 

Sistem Single Entry

Ada banyak sistem pencatatan buku salah satunya adalah sistem pencatatan buku tunggal (single entry). Pencatatan transaksi hanya dilakukan sekali.

Transaksi yang mengakibatkan pemasukan kas akan dimasukkan dalam sisi penerimaan sedangkan yang mengurangi kas dimasukkan ke dalam sisi pengeluaran.

Sistem ini memiliki kelebihan yaitu mudah dipahami dan sederhana. Namun sistem ini juga memiliki kelemahan yaitu tidak bagus untuk mencatat pelaporan karena sulit menemukan kesalahan pembukuan serta sulit m,elakukan kontrol keuangan. Oleh karena itu, ada sistem pencatatan lain yang lebih baik.

Sistem Double Entry

Sistem kedua adalah pencatatan double entry atau sistem tata buku yang berpasangan. Sistem ini dasarnya setiap transaksi ekonomi yang terjadi akan dicatat sebanyak dua kali. Penvatatan dengan menggunakan sistem ini dinamakan menjurnal. Dalam pencatatan model ini sisi debit ada di sebelah kiri, sedangkan sebelah kanan untuk sisi kreditnya.

Agar seimbang antara debit dan kredit, gunakan persamaan:

Belanja + Aktiva = Ekuitas Dana + Utang + Pendapatan

Apabila ada transaksi yang menambah aktiva akan dimasukkan ke dalam debit, sedangkan untuk mengruangi aktiva dimasukkan ke dalam kredit.

 

Sistem Triple Entry

Ini adalah sistem pencatatan terakhir yaitu triple entri. Sistem ini melakukan pencatatan menggunakan pencatatan double entry namun ditambah pencatatan pada buku anggaran. Jadi, pada saat pencatatan double entry dilakukan, PPK SKPD ataupun bagian keuangan/SKPKD juga akan melakukan pencatatan transaksi pada buku anggaran sehingga pencatatan ini berimbas  pada sisa anggaran.